Penampilan mahasiswa Prodi Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta di hadapan ratusan murid SMAN 1 Wonosegoro. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Pelatihan jurnalistik oleh Pemred Jawa Pos Radar Solo Kabun Triyatno. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Kehebohan Zetizen Goes to School terus berlanjut. Kali ini Tim Jawa Pos Radar Solo bersama Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menyambangi sekolah di Boyolali utara, SMAN 1 Wonosegoro. Ratusan siswa Smansawo-julukan SMAN 1 Wonosegoro-sangat antusias menyambut Zetizen Goes To School. Kegiatan ini dibuka dengan penampilan siswa yang menyanyikan beberapa lagu Jawa yang tengah hits. Tak mau kalah, mahasiswa Program Studi Teater FSP ISI Surakarta menyuguhkan drama teater kisah Rama dan Shinta. Cerita klasik tersebut dikemas secara menarik ala Gen-Z. Para pemain kompak mengenakan seragam SMA. Totalitas penampil mengundang tawa dan tepuk tangan dari 630 siswa kelas X hingga XII Smansawo yang memenuhi gedung olahraga sekolah setempat.

"Di Prodi Teater, kami tidak hanya belajar keaktoran, ada setting panggung, setting lighting, artistik, dan musik. Pada intinya, teater itu seni kolektif," ujar Agus, mahasiswa prodi teater.

Dosen Prodi Teater FPS ISI Surakarta Achmad Dipoyono menjelaskan, prodi teater berpijak pada akar-akar seni tradisi. Tidak hanya mempelajari teater secara umum. "Pembelajaran tentunya teater secara umum. Tetapi ada juga pembelajaran mata kuliah pencirian. Seperti drama radio, ketoprak, wayang wong, dasar-dasar catur, tari, dan karawitan," beber dia.

Achmad Dipoyono menyebut, teater bukan sekadar seni. Melainkan ilmu yang mempelajari tentang kehidupan manusia. Mulai dari antropologi, sosiologi, dan psikologi. Seni teater merupakan metode belajar seni yang mudah. "Seni teater sangat berkontribusi terhadap kehidupan yang tentu saja berdampak pada profesi apa pun,” jelasnya.

“Karena ada ilmu pemeranan, penyutradaraan, penulis naskah, skenografer, dan sebagainya. Tidak hanya di wilayah pertunjukan. Ilmu pemeranan dapat diterapkan untuk menyikapi kehidupan bermasyarakat, misalnya bisnisman dan pejabat," imbuh Achmad.

Achmad Dipoyono mengenalkan enam prodi di FSP ISI Surakarta. Mulai dari Etnomusikologi, Pedalangan, Tari, Teater, Karawitan, dan Koreografi Inkuiri. Mahasiswa dan dosen FSP tidak hanya unjuk kebolehan di dalam negeri, tetapi hingga internasional. "Misalnya pedalangan dan tari, banyak dari kami yang pentas tidak hanya lokal Solo, tetapi nasional bahkan internasional," tambahnya.

Guru sejarah sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Tata Usaha SMAN Wonosegoro Sodik mengapresiasi Zetizen Goes To School. Menurut dia, siswa menjadi lebih mengenal ISI Surakarta. Sebab, selama ini siswa hanya familier dengan perguruan tinggi umum.

"Saya melihat banyak siswa yang basisnya seni. Dengan mengenal ISI Surakarta, siswa memiliki orientasi ke depan dalam meniti pendidikan berikutnya," ujarnya.

Sodik berharap dapat bekerja sama lebih jauh dengan ISI Surakarta untuk mengembangkan bakat dan minat seni di sekolahnya. Samsawo selama ini juga mengangkat kebudayaan lokal. Salah satunya melalui ujian praktik pernikahan adat Jawa yang rutin setiap tahun. “Ini mengolaborasikan berbagai mata pelajaran. Seperti bahasa Jawa, seni budaya, dan prakarya-kewirausahaan. Serta berbagai ekstrakurikuler terutama tata rias,” ujar dia. Sementara itu, Zetizen Goes To School juga diisi materi pelatihan jurnalistik. Dipandu Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Solo Kabun Triyatno. Siswa sangat antusias. Mereka mencoba praktik sebagai wartawan untuk wawancara doorstop. (zia/bun)

Sumber : Radar Solo